Senin, 09 Juli 2018

Pesan ajaran agama Hindu dalam Pemberdayaan Ekonomi




Pesan ajaran agama Hindu dalam Pemberdayaan Ekonomi
Om Swastyastu

Ekonomi menjadi bagian yang penting dalam kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Ekonomi merupakan pondasi untuk mencapai hidup yang sejahtera dan bahagia. Untuk mencapai itu, setiap orang harus bisa melakukan pemberdayaan ekonomi. Dengan pemberdayaan ekonomi inilah orang bisa mendapatkan penghasilan untuk mewujudkan kehidupan yang bahagia, sejahtera lahir dan batin.

Dalam ajaran agama Hindu tujuan hidup manusia untuk mewujudkan Catur Purūṣa Artha, yakni: Dharma (kebajikan), Artha (harta benda/ material), Kāma (kenikmatan hidup) dan Moksa (kebebasan dan kebahagiaan abadi).  Dharma adalah landasan bagi tercapainya Artha, Kāma dan Moksa, oleh karena itu seseorang tidak boleh berbuat melanggar atau bertentangan dengan Dharma. Mahaṛṣi Cānakya dalam kitabnya Nītisāstra (III.20) menyatakan, seseorang yang tidak mampu mewujudkan satu dari 4 tujuan hidup tersebut, sesungguhnya kelahirannya ke dunia ini hanyalah untuk menunggu kematian.

Tujuan kehidupan dalam bidang ekonomi adalah kemakmuran, kebahagiaan dan kesejahteraan  yang dalam Arthasastra dapat diwujudkan melalui beberapa komponen, antara lain pertanian, peternakan, dan perdagangan. Inilah yang disebut sebagai sumber utama dari kekayaan atau kemakmuran, yakni tanaman, hewan, dan hasil hutan. Yang sangat berperan penting atas tercapainya ekonomi adalah pemimpin, karena tugas pemimpin adalah melindungi kesejahteraan, mendorong kemajuan ekonomi, dan menegakkan dharma.
   
Menurut Arthasastra bahwa dharma harus diwujudkan dengan empat ilmu berikut secara holistik yang disebut Catur Widya, yaitu seperti berikut.
(1) Anwiksaki, dapat merumuskan maksud dan tujuan sesuai dengan keadaan objektif di sekeliling kita.
(2) Wedatrayi, tiga weda utama yakni Rg Weda, Sama Weda, dan Yayur Weda.
(3) Vartta, yaitu kemakmuran ekonomi.
(4) Danda Niti, perlakuan yang sama di depan hukum.

Pemberdayaan Ekonomi menurut Hindu adalah untuk mendukung hidup dan kehidupan, dalam Sarasamuccaya (261-276) disana dijelaskan bagaimana cara mendapatkan arta dan cara mengelolanya yang tidak boleh bertentangan dengan Dharma (kebenaran dan kebajikan). Harta benda atau penghasilan yang diperoleh melalui kerja atas dasar Dharma, hendaknya dibagi tiga, yakni masing-masing sepertiga, digunakan untuk: Dharma, mengembangkan harta dan untuk dinikmati. Sloka Sarasamuccaya 262, sebagai berikut:

“ekanāmcena dharmāthaḥ kartavyo bhūtimicchatta, ekanāmcena kāmtha ekamamcam vivirddhayet”
.
“Nihan kramaning pinatêlu, ikang sabhāga, sādhana rikasiddhaning. dharma, ikang kapingrwaning bhāga sādhana ri kasiddhaning Kāma ika, ikang kaping tiga, sādhana ri kasiddhaning artha ika, wṛddhyakêna muwah, mangkana kramanyan pinatiga,denika sang mahyun manggiha kênang hayu.

Yang artinya: Demikian hendaknya dibagi tiga (hasil usaha itu), yang satu bagian, digunakan sebagai biaya mewujudkan Dharma, bagian yang kedua digunakan sebagai biaya untuk memenuhi Kāma (untuk kenikmatan hidup) dan bagian yang ketiga digunakan untuk mengembangkan harta melalui berbagai usaha, kegiatan ekonomi, agar berkembang lagi. Demikianlah hendaknya harta penghasilan itu dibagi tiga, oleh mereka yang menginginkan kebahagiaan.

Untuk memperoleh harta benda atau kekayaan, dalam  agama Hindu. Kitab Nītisāstra, karya mahārsi Cānakya yang dikenal juga dengan nama Kautilya, di antaranya menyatakan sebagai berikut: “Udyoge nāsti dāridriyam” (Tidak ada masalah kemiskinan bagi mereka yang giat berusaha) Cānakya Nītisāstra III.11.

Tetapi dalam melakukan usaha umat Hindu wajib menjadikan Dharma sebagai landasanya, sehingga usaha atau pemberdayaan ekonomi yang dilakukan menjadi wahana untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia dan diahirat.
Seperti yang tertulis dalam kitab Sarasamuccaya 261 menyatakan: “Lawan tekaping mangarjana, makapagwanang dharma ta ya”. Yang artinya: (Dan cara memperoleh sesuatu, hendaknyalah senantiasa berdasarkan Dharma (kebenaran dan kebajikan)
Apabila memperhatikan sumber utama kemakmuran tersebut dan upacara tumpek dalam keberagamaan umat Hindu di Bali maka tampak bahwa tujuan bidang kehidupan agama dan ekonomi saling mendukung. Misalnya, tumpek bubuh melindungi sumber kemakmuran dari tanaman dan tumpek kandang melindungi sumber kemakmuran dari peternakan. Malahan dalam usaha perdagangan dikenal pura melanting yang setidak-tidaknya dimaksudkan untuk melindungi sumber kemakmuran dari sektor bisnis. Dengan demikian, tujuan ekonomi untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan, bukan sesuatu yang ditabukan agama, bahkan keduanya dapat saling mendukung dan melindungi. Malahan agama dapat menjadi sumber moral bagi kegiatan dalam bidang ekonomi itu sendiri. 

Berdasarkan uraian tersebut di atas, ketekunan bekerja, bekerja dengan penuh kejujuran, sesuai dengan ajaran Dharma. Ajaran agama Hindu memberi motivasi untuk berusaha, untuk itu sebenarnya bisnis, sebagai satu kegiatan perekonomian adalah wajar dan  dalam agama Hindu, sepanjang di dalamnya atau kegiatan tersebut tidak merugikan orang lain, tidak ada unsur penipuan atau ketidakjujuran.

Om Santih Santih Santih Om

Selasa, 17 April 2018

Pancasila Dalam Perbuatan ”Pengamalan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa Perspektif Hindu”.



Hindu memiliki 3 kerangka dasar, yaitu Tatwa, Etika dan Upakara/Upacara. Tatwa berarti pengetahuan atau Filsafat agama, Etika adalah tingkah laku yang baik dan Upakara merupakan Ritual Keagamaan Hindu. Ketiga ini merupakan suatu kesatuan yang saling berkaitan, setiap etika dan ritual yang dilakukan oleh Hindu harus sesuai denga Tatwa/Filsafat/Pengetahuan. Begitu juga sebaliknya, Tatwa atau pengetahuan yang dimiliki tanpa adanya Etika dan Ritual berarti Tatwa itu hanya merupakan suatu angan-angan dan hayalan.

Konsep Ketuhanan yang ada dalam Hindu tertuang dalam Tatwa Kemudian turun dalam ajaran Panca Sradha yang artinya Lima Keyakinan Agama Hindu. Yaitu, Percaya dengan adanya Tuhan/Brahman, Percaya dengan adanya Atman, Percaya dengan adanya Karma Phala, Percaya dengan Reinkarnasi dan percaya dengan adanya Moksa.

Konsep Ketuhanan dalam Agama Hindu adalah Monothisme, artinya hanya memiliki satu Tuhan. tetapi manifestasi dan fungsi Tuhan memiliki banya sebutan. Konsep itu dibuktikan oleh beberapa mantra atau Sloka seperti di bawah ini.


Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadhanti
Tuhan itu satu adanya, oleh orang suci disebutkan dengan berbagai nama
                                            “Reg Weda Madala I Suktha 164 Mantra 46”

Ekam Evam Adityam Brahman
Tuhan itu hanya satu tidak ada duanya
                               “Upanisad, IV.2.1”

Eko Narayanad Na Dwityo Asti Kascit
Narayana itu hanya satu tidak ada duanya, yang  dihormati.
                               “Upanisad, IV.2.1”

Yo nah pita  janita yo nidhata
Dhanani veda bhuwanani visva
Ya dewanam namadha eka eva
Tam samprasnam bhuwana yantyanya

Artinya:
Oh, bapa kami, pencipta kami, pengatur kami yang mengetahui semua keadaan,
Semua yang akan terjadi, Dia tunggal namum memikul nama bermacam-macam dewa.
Kepada-Nya lah yang lain mencari-cari dengan bertanya-tanya
                                                                        (Reg Veda Mandala X Suktha 83 Mantra 3)

Mantra/sloka di atas merupakan bukti kuat yang menyatakan Hindu memiliki Tuhan dan tidak ada duanya, konsep Hindu sangat sejalan dengan sila pertama Pancasila, Ketuhanan yang Maha Esa. Hindu sangat menjujung tinggi pancasila sebagai dasar negara. Sehingga apapun yang menjadi keputusan dan kebijakan pemerintah, Hindu adalah pendukung garda depan, selama keputusan dan kebijakan yang diambil berdasarkan Pancasila.

Kemudian pengamalan sila pertama perspektif Hindu adalah sebagai berikut:

1. Sradha dan Bhakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa

Sradha dan Bhakti disini dimaksud sebagai umat beragama, kita harus yakin dengan adanya Tuhan, keyakinan dengan adanya tuhan bisa kita mantapkan dengan keagungan dan ciptaan Tuhan. Disamping itu, keyakinan terhadap Tuhan bagi Umat Hindu merupakan hal yang mutlak, karena itu merupakan point yang utama dalam Panca Sradha. Kemudian Bhakti disini dimaksud adalah, sebagai umat yang memiliki Tuhan, kita wajib melakukan pengorbanan Suci, baik itu dalam bentuk Sembahyang, Ritual, Perbuatan dan lain sebagainya.

2.    Hormat menghormati dan bekerjasama antar pemeluk agama

Sebagai umat beragama yang tinggal di Indonesia, yang mana Indonesia memiliki berbagai SARA, sehingga sudah menjadi kewajiban umat hindu untuk menghormati pemeluk agama lain.

3.    Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah

Kebebasan menjalankan ibadah merupakan haksetiap umat beragama, ini juga diatur dalam UUD 1945 Pasal 28 ayat.2 sehingga setiap warga negara harus menghormati setiap pemeluk agama untuk menjalankan Ibadah.

4.    Tidak memaksakan suatu agama kepada orang lain

Apa yang baik bagi diri kita belum tentu baik bagi orang lain, setiap orang memiliki kesenangan dan keyakinan yang berbeda, sehingga kita tidak boleh memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Termasuk memaksa suatu agama ke orang lain.


Bentuk hubungan dan dukungan Umat Hindu dengan Negara yang berdasarkan pancasila adalah sebagai berikut:
  1. Agama Hindu dan Negara berdasarkan atas ketuhanan yang maha esa
  2. Agama Hindu dan Negara adalah bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.
  1. Tidak ada tempat bagi pertetangan agama, golongan agama, antar dan inter pemeluk agama serta antar agama.
  1. Tidak ada tempat bagi pemaksa agama karena Sradha dan Bhakti itu bukan hasil paksaan bagi siapapun juga.
  1. Memberikan toleransi terhadap orang lain dalam menjalankan  agama dalam negara
  2. Segala apek penyelenggaraan negara sesuai dengan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dari ulasan di atas dapat ditarik kesimpulan  Hindu  sangat selaras dengan sila pertama Pancasila. Apapun yang menjadi kebijakan pemerintah dalam bidang keagamaan di Indonesia, Hindu memberikan dukungan penuh dan selalu menghargai pemerintah. Karena dalam Hindu pemerintah merupakan Guru yang patut kita hormati. Mari kita tegagkan dan jaga keutuhan Pancasila, karena Pancasila merupakan pedoman dan dasar negara dalam menentukan program pemerintah. Demikian penjelasan Agama Hindu terhadap pengamalan Pancasila sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Senin, 16 April 2018

Mencapai Dharma, Artha, Kama dan Moksa dengan Catur Asrama




Om Swastyastu.. (semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia)

Catur Asrama adalah 4 jenjang kehidupan manusia yaitu: Brahmacari, Grahasta, Wanaprasta dan Bhiksuka. Empat jenjang inilah yang menjadi penentu tujuan hgidup manusia. Dalam agama Hindu ada 4 tujuan hidup manusia yang disebut Catur Pusrusa Arta, yaitu Dharma Arta, Kama dan Moksa. Bagaimana kempat tujuan ini bisa dicapai dengan baik? Bisa atau tidak? Jawabanya adalah bisa, karena Hindu memiliki pedoman dan tuntunan kehidupan yang sangat lengkap.

1. Brahmacari

Brahmacari adalah masa menuntut ilmu. Secara umum mulainya menuntut ilmu seseorang adalah umur 5-25 tahun. Namun di dalam kehidupan ini, kita wajib menuntut ilmu setingi-tingginya dan seluas-luasnya. Pada masa ini adalah masa yang paling tepat, karena pada umur ini manusia sangat mudah mudah menerima pengetahuan dan merespon dengan cepat. Ilmu pengetahuan itu sangat penting bagi bekal hidup. Dengan ilmu pengetahuan orang bisa meniti kehidupan dengan baik dan mencapai tujuan. Seperti yang disebutkan dalam Niti Sastra 1.5.

”Sangat disayangkan bila orang kaya tiada mempunyai kepandaian,
biarpun muda, tampan, keturunan bangsawan dan berbadan sehat,
bila tiada pengetahuan mukanya pucat tiada bercahaya,
seperti bunga dapdap, merah menyala namun tiada wangi”

Jika kita maknai ini kitab suci di atas adalah orang harus memiliki pengetahuan yang luas, walaupun orang tersebut sudah kaya, tampan dll. Dengan ilmu pengetahuan inilah orang akan dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik serta dengan ilmu pengetahuan  inilah pencapaian dharma bisa selalu diusahakan dan dijalani.

2. Grahasta

Grahasta adalah masa berumah tangga atau berkeluarga, tujuan Grahasta adalah untuk meneruskan keturunan, berkeluarga menjalakan Yadnya, kehidupan bermasyarakat serta memenuhi Kama. Dalam masa ini yang menjadi titik berat adalah mencari Artha untuk mencapai Kama. Kama merupakan suatu keinginan, keinginan untuk memiliki keturunan, keinginan untuk hidup bahagia serta keinginan untuk mencapai tujuan. Pada masa merupakan masa bagi orang untuk bekerja untuk mencari Artha untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kama tersebut. Karena pada masa ini manusia sedang kuat dan cepat. Seperti dalam Sloka Sarasamuscaya 27 dikatakan:

“Karena prilaku seseorang hendaknya gunakan sebaik-baiknya pada masa muda, selagi badan sedang kuatnya, hendaklah dipergunakan untuk usaha menuntut darma, artha dan ilmu pengetahuan, sebab tidak sama kekuatan orang tua dengan kekuatan anak muda, contohnya ialah seperti ilalang yang telah tua itu menjadi rebah, dan ujungnya tidak tajam lagi”

Jadi berusaha dan bekerjalah untuk Dharma, Artha dan Ilmu Pengetahuan. Di jenjang inilah ketiga ini mencapai puncaknya. Mendapatkan Artha dengan jalan Dharma yang didasari dengan Ilmu Pengetahuan yang luas.

3. Wanaprastha

Wanaprastha adalah jenjang atau masa mengasingkan diri di hutan. Setelah manusia berhasil melewati jenjang Grahasta, mulailah orang tersebut menarik diri dari hal-hal yang bersifat keduniawian. Dalam konteks kehidupan modern ini jenjang ini bisa dikatakan sebagai mulai mengabdikan dirinya di kegiatan keagamaan seperti Ngayah (berkarma di kegiatan keagamaan). Dengan Ngayah, orang dapat mengembalikan kesucian pikiran. Seperti halnya keluarga Panca Pandawa, setelah kerajaan diberikan oleh anak-anaknya, Pandawa pergi ke hutan untuk mengasingkan diri demi mengembalikan kesucian diri mereka.

4. Bhiksuka

Bhiksuka adalah masa dimana orang sudah sepenuhnya menyerahkan hidupnya untuk Tuhan. Kehidupannya sudah terlepas dari ikatan duniawi dan pengabdian di masyarakat. Dirinya hanya diabdikan untuk Tuhan, setiap saat memuja Tuhan dan menyebut nama suci Tuhan. Pada masa inilah jika orang benar-benar menjalankan jenjang ini dengan baik maka tujuan terakhir yaitu moksa akan dapat dicapai. Karena setiap saat selalu ingat dengan Tuhan. Dengan keadaan seperti itulah orang akan mencapai Moksa (Menyatu dengan Tuhan) Seperti Sloka Bhagawad Gita 8.6.

“Apapun yang diingat dan dipikirkan seseorang pada saat ajal tiba, meninggalkan badan jasmani ini, wahai Arjuna, ia akan sampai pada keadaan yang terpikirkan itu, sebab hal itu terus menerus terserap di dalam pikiran”

Seperti yang tetuang dalam Sloka di atas ini adalah titik terang mengapa orang harus melewati setiap jenjang dengan baik, tak lain adalah untuk mencapai tujuan hidup itu sendiri. Bhiksuka adalah masa atau jejang yang memberikan jaminan Moksa itu bisa dicapai oleh siapapun asalkan melewati dengan baik setiap jenjang kehidupan itu.

Hindu merupakan agama yang memiliki ajaran yang lengkap dan sangat luar biasa, penganutnya diberi diberi kebebasan kemanapun mau melangkah. Oleh karena itu, walaupun kita hidup di zaman Kali Yuga, yakinlah dengan menjalanan dan mengaplikasikan ajaran agama dengan baik, maka senantiasa tujuan hidup akan tercapai dengan baik.

Semoga seluruh mahluk berbahagia, Om Santi Santi Santi Om..

Senin, 07 Agustus 2017

Kesetiaan Keutamaan Dari Dharma




Semoga Selalu Sehat dalam Lindungan Tuhan.

Kesetiaan adalah perbuatan dharma yang paling mulia dan utama. Dengan kesetiaan ini kita bisa mempertahankan keutamaan menjadi manusia. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk bisa menjalani hidup dengan baik dan memperbaiki kualitas Sang Diri ini. Tentunya adalah setiap perbuatan harus dilandasi dengan dharma dan norma yang ada. Tantangan dan godaan hidup membuat manusia berada dalam lingkaran karma yang harus dilalui. Banyak manusia berhasil melewati godaan dan tantangan hidup, tetapi banyak pula yang jatuh dalam melewati godaan dan tantangan hidup ini. Tidak mudah memang bagi manusia selalu berada di jalan Dharma di tengah godaan dan tatangan hidup yang demikian komplek ini, tetapi dengan menerapkan ajaran Agama yang ada, menjamin manusia mampu melewati segala godaan dan tantangan itu.

Menjadi manusia yang setia merupakan suatu penghargaan tertinggi bagi ikatan karma dan kesempatan hidup  yang dilalui oleh manusia. Begitu pentingnya kesetiaan bagi kehidupan ini, sehingga perlu digaris bawahi kesetiaan merupakan suatu landasan untuk mencapai tujuan hidup ini yang harmonis dan sejahtera. Dalam Slokantara Sloka 2.6 disebutkan:

“Membuat telaga untuk umum itu lebih baik daripada menggali seratus sumur. Melakukan yadnya (korban suci) itu lebih tinggi mutunya daripada membuat sertus telaga. Pempunyai seorang putra itu lebih berguna daripada melakukan seratus yadnya. Dan menjadi manusia yang setia itu jauh lebih tinngi mutunya dan gunanya daripada mempunyai seratus putra.”

Nilai kesetiaan itu sangatlah tinggi, seperti yang tertuang dalam kitab Slokantara. Sehingga sebagai manusia kesetiaan merupakan perbuatan yang mulia diantara yang paling mulia dan mencerminkan bagaimana tingkat sraddha dan bhakti seorang tersebut, sehingga cerminan spiritualitas yang dimiliki setiap orang dapat dilihat dari sejauhmana tingkat kesetiaan orang itu.

Dalam ajaran Ajaran Agama, banyak ajaran yang menuntun dan menekankan supaya setiap umat selalu bersikap setia, salah satunya adalah ajaran Panca Satya. Panca Satya merupakan ajaran lima kesetiaan yang harus dilaksanakan, yaitu:

1.  Satya Wacana, Satya wacana adalah kesetian dalam berkata-kata, apapun yang diucapkan harus           jujur dan benar. Contohnya adalah, apapun yang diucapkan memang benar adanya, tidak dilebih-         lebihkan dan tidak dikurang-kurangi.

2.  Satya Hredaya, Satya Hredaya adalah kesetiaan terhadap kebenaran dan kejujuran kata hati,                apapun yang ada di hati itulah yang harus keluar dari mulut. Contoh: jika dalam hati menganggap        itu benar, maka sepatutnya kita menuruti apa kata hati dan kebenaran itu.

3.  Satya Laksana, Satya Laksana adalah sikap kesetiaan dan jujur pada perbuatan, apa yang                      diperbuata harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Segala resiko dan hasil dari perbuatan        itu menjadi tanggung jawab si pelaku. Contoh: menerima dan bertanggung jawab setiap apa yang        diperbuat.

4.  Satya Mitra, Satya Mitra adalah kesetiaan dan jujur kepada teman, bagaimanapun keadaan teman,       baik dalam suka dan duka harus didampingi dan didukung. Contoh: selalu mensuport dan                     membantu teman baik suka maupun duka.

5. Satya Samaya, Satya Samaya adalah kesetiaan dan jujur terhadap janji. Janji adalah hutang,                 perkataan adalah cerminan pribadi orang. Bagaimanapun kehidupan dan keadaannya, wajib untuk       mmemenuhi janji dan mempertanggung jawabkan ucapan yang telah keluar. Contoh: menepati           setiap janji dan ucapan.

Mari sebagai manusia harus setia dengan apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab. Dengan kesetiaan ini, dapat mebawa diri ini kedalam kehidupan yang lebih baik. Dan tidak dipungkiri, dengan kesetiaan manusia berada dalam jalan dharma sehingga dapat menciptakan kehidupan yang harmonis serta  meningkatkan kualitas Sang Diri. Syukuri dan jaga apa yang telah dimiliki, karena dengan demikian kehidupan ini menghargai sang Pencipta Tuhan Hyang Maha Esa. Sebagai umat, merupakan suatu keharusan dan pencapaian yang paling mulia apabila menjadi orang yang SETIA atau menjunjung tinggi KESETIAAN. Semoga bermanfaat, Terimakasih..

Semoga seluruh isi alam semesta ini berbahagia dan sejahtera..

Damai, damai, damai selalu di manapun dan kamanpun..

Jumat, 04 Agustus 2017

Ilmu Pengetahuan Yang Satwika (Utama dan Mulya)



Semoga Selalu Sehat dalam Lindungan Tuhan..

Ilmu Pengetahuan menjadi dasar yang harus dimiliki, sebab Ilmu Pengetahuan adalah modal dalam menjalani kehidupan dan suatu kebenaran yang berasa dari sang Pencipta. Namun dalam mencari Ilmu pengetahuan perlu diperhatikan betul bagaimana cara mendapatkannya dan sumber asal Ilmu Pengetahuan itu. Ilmu Pengetahuan yang Satwika tidak semata-mata didapatkan hanya berdasarkan apa yang didapatkan dari referensi, tetapi bagaimana ilmu pengetahuan itu  bisa diaplikasikan yang dapat diterima dan memberikan manfaat bagi masyarakat.  Dalam ajaran agama Hindu, konsep Ilmu Pengetahuan yang Baik/Satwika adalah yang disebut Tri Pramana Tiga yaitu sebagai berikut:

1. Tri Pramana (Agama, Anumana dan Pratyaksa)

Tri Pramana adalah tiga cara  cara mendapatkan ilmu pengetahuan melalui referensi, logika, dan Pengamatan. Yang pertama adalah Agama, adalah cara mendapatkan Ilmu Pengetahuan melalui Buku, Pustaka Suci, Guru atau orang-orang yang diakui kejujuran, ksucian dan keluhuran pribadinya. Cara mendapatkan Ilmu Pengetahuan ini adalah  cara yang paling umum didapatkan. Yang kedua Anumana adalah cara mendapatkan Ilmu Pengtahuan melalui kejadian dengan perhitungan yang logis. Ada sebab ada akibat, sebagai contoh, di mana ada asap, di situ pasti ada api. Yang ketiga adalam Pratyaksa adalah cara mendapatkan ilmu pengetahuan dengan panca indria atau pengamatan langsung. Contoh, dengan melihat kita tahu apa yang ada disekitar kita.

2. Tri  Pramana (Sastratah, Gurutah dan Swatah)

Adalah tiga cara mendapatkan dan memahami Ilmu Pengetahuan dengan petunjuk dari sastra, guru dan alam/Tuhan supaya pengetahuan yang didapatkan bisa dipercaya. Sastratah adalah memahami pengetahuan melalui sastra atau Tattwa. Dengan sastra ini segala pengetahuan memiliki dasar tertulis yang dapat digunakan sebagai pedoman atau referensi. Gurutah adalah memahami Ilmu pengetahuan melalui nasehat dan pengalaman dari orang tua atau orang yang Jujur dan mamiliki kelakuan yang baik. memalui Gurutah ini, pemahaman dan kebenaran ilmu pengetahuan bisa dikuatkan oleh orang yang telah berpengalaman. Swatah adalah cara memahami Ilmu pengetahuan melalui Alam Semesta/Sang Pencipta. Dengan cara ini bisa kita bisa langsung melihat dan merasakan keaggungan Tuhan dengan segala ciptaan dan kehendaknya yang ada di alam semseta ini.

3. Tri Pramana (Desa, Kala dan Patra)

Adalah tiga cara mengamalkan ilmu pengetahuan yang didapat dengan mempertimbangkan Fenomena yang terjadi di sekitar. Sehingga Ilmu Pengetahuan tidak bertentangan terhadap lingkungan sekitar. Desa adalah tempat yang digunakan sebagai acuan bagaimana Pengetahuan itu didapatkan dan bisa berguna dengan baik. Misalnya, setiap pengetahuan yang dimiliki dan didapat belum tentu cocok dengan karakter Desa yang ditemui. Sehingga bagaimanapun Pengetahuan yang kita miliki harus bisa diterima dan disesuaikan di manapun berada. Kala adalah cara mendapatkan dan mengamalkan ilmu dengan mempertimbangkan waktu, Ilmu Pengetahuan yang didapat harus menyesuaikan dengan keadaan waktu yang dihadapi. Sebagai contoh, pengetahuan yang hanya cukup memerlukan waktu 1 hari tetapi ditempat lain perlu waktu berhari-hari. Waktu yang lama ini harus dihapus sehingga bisa menyesuaikan dengan perkembangan. Sedangkan Patra adalah memahami dan mengamalkan pengetahuan melalui Kondisi yang ada. Setiap pengetahuan yang dimiliki belum tentu bisa didapatkan dalam kondisi yang sama, sehingga memerlukan penyesuaian kondisi. Sebagai contoh, tidak bisa dipaksakan ilmu yang dimiliki bisa diterima pada kondisi apapun. Sehingga harus memeperhatikan kondisi yang ada.

Ketiga konsep diatas merupakan rancangan ajaran Hindu untuk menuntun dan memberikan pedoman kepada umatnya dalam cara memiliki ilmu pengetahuan yang Satwika, tidak cukup dengan referensi saja, tetapi bagaimana memahami ilmu pengetahuan itu dengan baik dan tepat sehingga dalam praktek tidak menjadi bahaya terhadap kehidupa dan juga bagaimana Pengetahuan yang dimiliki mampu diterima pada tempat, waktu dan kondisi yang berbeda, sehingga tidak memberatkan dan membebani lingkungan sekitar. Jadi, marilah lebih bijak dalam mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan yang Satwika dalah pengetahuan yang bisa memberi manfaat yang dan kemajuan bagi kehidupan ini. Semoga bermanfaat. Terimakasih...

Semoga Semua Mahluk Hidup Berbahagia..
Damai, Damai dan damai kapanpun dan di manapun..

Kamis, 03 Agustus 2017

SEHAT DENGAN TRI KAYA PARISUDHA


Semoga Selalu dalam keadaan sehat dan lindungan Tuhan..

Tri kaya parisudha adalah ajaran Weda yang sangat dasar. Dari tiga kerangka dasar agama Hindu yaitu Tatwa, Etika, dan Upacara, Ajaran ini tergolong pada etika. Kenapa demikian? Karena ajaran ini mengajarkan kita bagaimana tatacara prilaku kita menjalankan kehidupan ini dengan mahluk lain. Tri kaya parisuda berasal dari kata sansekerta, Tri artinya tiga, Kaya artinya karya/perbuatan dan Parisudha adalah penyucian/Perbaikan. Jadi Tri Kaya Parisudha adalah tiga perbuatan atau perilaku yang harus disucikan. Perilaku yang mana saja?

Yang pertama adalah Manahcikamanahcika  artinya Berpikir yang baik, kita harus selalu berpikir yang baik karena pikiran merupakan awal dari perilaku kita, pikiran yang mengundang sifat dan seluruh organ tubuh untuk melakukan sesuatu. Maka sebaiknya,  jika pikiran kita selalu baik maka hal yang baik pula akan kita berikan dan dapatkan.

Yang kedua adalah WacikaWacika artinya Berkata yang baik. Kita harus selalu berkata yang baik, karena dengan berkata yang baik, segala kebaikan itu akan datang dalam kehidupan kita. Dengan berkata yang baik, akan membuat orang di sekeliling kita merasa nyaman dan suka dekat dengan kita.

Yang ketiga adalah Kayika, kayika artinya Berbuat yang baik. Kita harus selalu berbuat yang baik, perbuatan kita dipengaruhi oleh pikiran dan perkataan kita, maka baiknya kita harus selalu berfikir dan barkata yang baik terlebih dulu agar segala tindakan kita menjadi baik pula. Dengan berbuat yang baik, maka kita akan terselamatkan dalam hidup ini dan orang yang berada di sekitar juga merasa beruntung serta berbahagia.

Ketiga prilaku diatas memiliki keterkaitan yang sangat erat, berawal dari pikiran yang menjadi penentu utama untuk menjalani kehidupan ini dengan baik. Pikiran yang baik dan positif akan membawa kita ke dalam hal yang baik dan positif pula. Begitu juga dengan perkataan dan perbuatan, akan menjadi baik apabila diawali dengan pikiran yan positif.

Meskipun ajaran ini sangat dasar dan sederhana, tapi ajaran ini akan membawa kita  mencapai tujuan umat Hindu, yaitu moksartam jagad dita ya cai iti dharma yang artinya kebebasan di dunia dan di akhirat. Sering kali mengalami kesulitan mempraktekan ajaran ini dengan baik. Walaupuan manusia dipengaruhi oleh indria-indria dan  tidak luput dari kesalahanmari berusaha semaksimal mungkin untuk mempraktekan ajaran ini dengan baik. Agar kehidupan yang harmoni, bahagia dan sejahtera bisa tercipta di dunia ini. Dengan melakukan ajaran ini, rasa cinta kasih dan pengabdian pun akan muncul. Artinya ketika telah memberikan cinta kasih dan pengabdian kita terhadap mahluk lain, maka secara otomatis kita juga telah mencintai dan mengabdikan diri kita kepada  Tuhan.

Dengan selalu bersyukur, kita akan selalu merasa tenang dan riang. Dengan perasaan senang dan riang itu, maka pikiran kita akan selalu positif dan baik. Dengan pikiran yang positif kita akan sehat  jasmani maupun rohani, dengan demikian perkataan dan perbuatan kita pun akan baik pula.n Semua itu berawal dari perasaan, untuk membangun perasan yang baik, kuncinya adalah selalu bersyukur. Jadi, mari kita selalu bersyukur diawali malai setiap bangun pagi, ucapkalah syukur kepada Tuhan. Semoga bermanfaat. Terimakasih..

Semoga seluruh isi alam semesta ini berbahagia dan sejahtera.

Damai, Damai, Damai selamanya..

Selasa, 01 Agustus 2017

Ilmu Pengetahuan Menciptakan Kebahagiaan dan Kesejahteraan



Semoga selalu sehat dan lindungan Tuhan..

Lawan Sastra Ngesti Mulya, sebuah semboyan agung dari bapak Pendidikan kita “Ki Hadjar Dewantara” yang artinya Dengan Ilmu Pengetahuan atau Budaya mencita-citakan kebahagian dan kesejahteraan. Semboyan itu seiring dengan Kitab Suci Weda, yang menyatakan Ilmu Pengetahuan merupakan suatu bekal yang paling tinggi. Karena dengan ilmu pengetahuan segala prilaku dan gerak manusia tetap berada di jalan kebenaran/Dharma.

Dalam ajaran Hindu mengajarkan bahwa persembahan ilmu pengetahuan adalah persembahan paling tinggi diantara yang lainnya. Ilmu pengetahuan menjadi kebutuhan dan kewajiban dasar yang harus dimiliki. Itu sebabnya pada ajaran Catur Asrama, empat jenjang kehidupan menempatkan posisi Brahmacari di awal. Brahmacari yang merupakan masa menuntut ilmu, hendaknya digunakan masa ini sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin, karena perlu kita sadari betul bahwa begitu pentingnya ilmu pengetahuan bagi kehidupan. Tidak hanya sebagai bekal untuk menjalani hidup, tetapi dengan ilmu pengetahuan segala dosa dan kesalahan dapat dihindari. Seperti sloka di bawah ini:

Api ced asi papebhyah
Sarvebhyah papa-krt tamah,
Sarwam jnana-plavenaiva
Vrjinam santariyasi.
                                (Bhagawad Gita, IV.36)
Artinya:
Walau seandainya engkau paling berdosa di antara manusia yang memikil dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan ini lautan dosa akan engkau seberangi.

Sangat tegas dalam Bhagawad Gita mengatakan Ilmu Pengetahuan sangat penting dan mulia, untuk itu pergunakan kesempatan lahir menjadi manusia untuk meningkatkan kualitas jiwa yang ada dalam diri dengan cara menuntut dan mencari ilmu setinggi-tingginya. Dengan ilmu pengetahuan aspek kehidupan dari berbagai bidang dapat dilalui dengan baik dan terarah. Terlebih lagi sebagai manusia yang memiliki tujuan kebebasan, kehidupan yang harmoni, damai, bahagia dan sejahtera dengan spritualitas masing-masing, memerlukan pedoman kehidupan yang harus dipatuhi dan dijalankan. Pedoman adalah  Agama, yang mana Agama juga memerlukan Ilmu pengetahuan untuk menerapkan ajaran-ajaran agama secara benar dan baik. Seperti sosok Jenius Albert Einstein mengatakan, “Ilmu Tanpa Agama Buta, Agama tanpa Ilmu itu lumpuh”.

Keutamaan Ilmu Pengetahuan itu bagi kehidupan ditekankan lagi dalam kitab Niti Sastra I.5 sebagai berikut:

“Sangat disayangkan jika orang kaya tiada mempunyai kepandaian, biarpun muda, tampan, keturunan bangsawan dan berbadan sehat, bila tiada pengetahuan mukanya pucat tiada bercahaya, seperti bunga dabdap, merah menyala namun tiada wangi”

Begitu pentinngya Ilmu pengetahuan bagi kehidupan ini, oleh karena itu setiap orang berkewajiban untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya. Sehingga kesempatan menjadi manusia ini dapat berperan dan berbuat lebih banyak yang bermanfaat bagi orang banyak. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

Semoga seluruh isi alam semesta ini berbahagia dan sejahtera..

Damai, Damai dan Damai selama-lamanya di manapun..